Perempuan yang Terasing di Dalam Tubuhnya Sendiri.

Sore itu sedang tidak jelas pukul berapa. Di tempat yang tidak begitu dianggap keberadaannya pula aku menyinggahi kursi marmer yang ditata mengitari meja barista. Kedai itu telah dipenuhi puluhan manusia yang mengeluarkan suara riuh bak sekumpulan lebah, mengunyah makanan sekaligus bercakap dengan teman bicara masing-masing. Sembari menyendok Affogato, aku bercakap dengan teman yang baru saja kubeli. Kami asik berbicara dalam bahasa kami sendiri, enigma yang tidak akan dimengerti oleh puluhan manusia yang riuh seperti sekumpulan lebah itu.

Seorang perempuan datang menghampiri mejaku, satu-satunya meja yang menyisakan satu kursi marmer kosong. Tentu saja aku mempersilahkannya duduk di kursi marmer yang kosong itu karena temanku yang baru saja kubeli tadi tidak akan keberatan jika kududukkan di atas meja. Perempuan itu tampak kerepotan menjinjing tas, mengempit kantong plastik, dan di tangan yang satunya lagi menggenggam gelas transparan berisi separo Espresso.

“Suka dengan buku itu? Kebetulan aku juga baru saja beli. Bagus ya ceritanya?”

Kata-kata perempuan itu keluar dari bibir merah mudanya dan masuk ke telingaku yang masih terpasang headset. Aku menatap perempuan yang berdiri anggun itu sedang berusaha merapikan posisi duduknya. Kupikir, baguslah ada perempuan yang mau berbicara denganku, beruntung pula aku karena ia tertarik dengan teman bacaanku. Kemudian aku melepas headset yang sengaja kupasang tanpa bunyi-bunyian, hanya sekedar menjauhkanku dari perasaan terasing. Karena kehadiran perempuan itu tidak menggangguku, maka aku berhenti berpura-pura mendengarkan lagu.

“Oh, ini? Antalogi cerpen. Saya suka dengan penulis yang puitis.”

“Oh ya? Boleh tau ngga’ kata-kata mana yang kamu sukai?”

“Yakin mau tau? Ini nih: Baginya, kau hanya pembunuh waktu.

Perempuan itu mengeluarkan tawa yang menyelipkan makna seraya meraih gelas transparan dan menyeruputnya. Lipstik merah mudanya meninggalkan bekas di pinggiran gelas transparan dengan Espresso yang tersisa seperempat. Tampak ia sedang sendirian saja. Barangkali sedang tidak ingin ditemani, tidak suka ditemani, atau tidak menemukan teman yang mau menemaninya? Ia membuka kantong plastik yang dari tadi masih dikempitnya, mengeluarkan dua macam buku, lantas menyobek plastik pembungkus buku itu dengan hati-hati. Label harga tidak serta merta dibuangnya, ia justru menempelkannya lagi di bagian belakang buku-buku baru itu.

“Sama siapa kesini?” Pertanyaan yang kulemparkan sebagai upaya mencairkan suasana.

“Sendiri. Memangnya siapa yang mau diajak ke tempat seperti ini?”

Benar juga, selain aku dan perempuan itu, hampir semua manusia di kota metropolitan seperti ini lebih suka menyinggahi mall dan gedung bioskop. Akan lebih baik jika kami hanya membawa teman bacaan masing-masing.

Selepas pertemuan kami di tempat yang tidak begitu dianggap keberadaannya itu, hubungan kami pun berlanjut dengan bertukar nomor telepon. Terkadang aku meneleponnya, seringkali ia yang meneleponku. Sejauh ini, ia tidak pernah sedikitpun bercerita tentang kehidupannya, keluarganya, dan orang-orang yang dicintainya. Siapakah dia? Aku tidak pernah benar-benar mengenalinya. Terkadang aku berpikir kalau ia hanyalah perempuan yang sekedar ingin membunuh sepi bersamaku. Dan suatu saat, ia akan lenyap meninggalkanku bersama senyap.

Di dunia ini, belum pernah ada telinga-telinga yang dengan sungguh-sungguh bersedia mendengarkan ocehanku, atau pembicaraan yang tidak jelas juntrungannya. Tetapi perempuan itu, mendengarkan diamku saja dia betah, satu sampai dua jam, bahkan lebih. Tampaknya ia cukup mengerti bahwa di dalam diam justru terdapat lebih banyak kata-kata. Maka dari itu tak pernah sedikitpun ia menyela atau membicarakan hal-hal lain.

“Lagi di mana?”

“Ngopi.”

Sebuah pesan singkat datang dari perempuan itu, menanyakan keberadaanku yang saat itu memang sedang ngopi. Tak berselang lama, pintu kedai terbuka, perempuan itu datang dan langsung mengambil duduk dihadapanku. Banyakkah waktu yang dimilikinya hingga ia rela menyematkan beberapa jam hanya untuk duduk menyeruput kopi bersamaku?

Begitulah. Tanpa ba-bi-bu, sahabat baruku itu tiba-tiba datang di kedai ini. Kami memesan menu yang sama seperti saat pertemuan kali pertama, bercakap tentang kutipan buku, tentang kata-kata yang sedikit puitis dan romantis, serta lagu-lagu baru yang pas dengan suasana hati kami. Selepas itu, kami lebih banyak diam dan menyesap kopi masing-masing. Sekalipun timbul percakapan lagi, hanya aku saja yang mengoceh, sementara ia mendengarkanku dengan antusias.

Kami memang selalu membawa teman bacaan di dalam tas masing-masing, sekedar kami baca sebagai teman untuk mengusir sepi dan keterasingan. Jika ia sedang memesan Espresso, maka aku akan memesan Affogato dan sebaliknya. Jika pemilik kedai memutarkan lagu-lagu yang kami sukai, kami pun bergantian menyanyikannya.

“I’m gonna love you, like I’m gonna lose you.”

“I’m gonna hold you, like I’m saying goodbye.”

Di kedai kopi ini, pertemuan kami menjadi semakin rutin dan terjadwal. Seminggu bisa tiga hingga empat kali kami berjumpa. Terkadang cerita kami menjadi sepanjang jalan tol, seperti malam yang terasa tiada habisnya. Tidak jarang pula kami lebih banyak membicarakan kesunyian. Kami selalu menjadi pelanggan terakhir hingga pemilik kedai mempersilakan kami dengan sangat sopan untuk datang kembali esok hari. Perempuan itu berjanji akan selalu datang di kedai ini menunggu kehadiranku.

Perempuan itu menyukai Espresso. Baginya, pekatnya Espresso selalu membuatnya teringat akan malam-malam yang gelap. Entah apa yang disukainya dari malam yang gelap itu. Aku tidak begitu menyukai Espresso dan gelap selalu terasa kelam. Aku pun teringat akan sesuatu saat menyesapi Affogato ku. Kepahitan yang terasa sedikit lebih manis bukan hanya karena campuran es krim vanillanya, tetapi juga karena kehadiran perempuan itu dihadapanku. Aku merasa menjadi orang terasing yang tidak lagi sendirian. Rasa-rasanya sulit membedakan antara kecanduan kopi ataukah kecanduan perempuan itu.

Lama kelamaan aku keberatan dengan pertemuan dan komunikasi kami yang semakin rutin di kedai itu. Aku belum siap menghadapi kenyataan jika suatu saat nanti, tidak ada lagi waktu yang disisakan perempuan itu barang semenit untukku. Pada mulanya ia keberatan dengan rencanaku untuk menyudahi pertemuan kami. Namun setelah meyakinkannya, permohonanku yang terdengar sinting baginya itu dikabulkan.

“Baiklah, mulai saat ini kita akan saling melupakan. Oh ya, satu lagi. Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun dan menghabiskan waktu berapa pun lamanya selama aku menyukainya.“

Lantas, antara menghabiskan sajian kopi dan menghabiskan malam bersamaku di kedai itu, manakah yang lebih disukainya? Aku tidak pernah memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu kepadanya. Karena selama ini tidak ada seorang pun yang suka berlama-lama menghabiskan malamnya bersama dengan perempuan sepertiku, perempuan yang terlalu banyak menyimpan kesedihan yang melekat di dalam kepalanya. Jadi, pastilah ia lebih menyukai Espresso, hanya itu. Dan pantaslah jika aku berpikir bahwa baginya, aku hanya sekedar pembunuh waktu.

Aku harus menghilang dari perempuan itu, perempuan yang hampir tidak sanggup berkata “tidak” untuk segala macam permintaanku. Walaupun sebenarnya aku tidak pernah meminta suatu apapun selain waktu dan telinganya. Selain menjadi perempuan yang terasing, hal yang terasa begitu pahit di dunia ini adalah menjadi si pengemis waktu.

Untuk malam yang kesekian, kursi marmer di hadapanku tetap kosong. Pemilik kedai datang membawa menu dan dengan keramahannya menyapaku.

“Dari Espresso dan Affogato yang saya sajikan, manakah yang paling Anda sukai? Saya penasaran karena sejak pertama kali datang di kedai saya ini, Anda selalu memesan keduanya untuk diminum sendiri.”

Terkadang, aku menjadi bodoh dengan terlalu cinta kepada cerita-cerita bagus sehingga memaksakannya untuk menjadi kenyataan. Ya, aku selalu merasa terasing di kota ini, bahkan di dalam tubuhku sendiri. Perempuan yang menyapaku pada suatu sore yang tidak jelas pukul berapa, di tempat yang tidak begitu dianggap keberadaannya, dan yang suka memesan Espresso itu, tidak pernah ada.

TULISAN INI PERNAH DIIKUTSERTAKAN DALAM LOMBA MENULIS CERPEN BERTEMAKAN “RASA DALAM SECANGKIR KOPI” DAN MENJADI KONTRIBUTOR TERPILIH VERSI MAWAR PUBLISHER.

Ada Sepotong Bulan Pucat Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam.

Tidak banyak furnitur yang berubah di cafe ini, terutama jajaran meja kayu yang sejiwa dengan rasa kopi. Dan barista itu, ia berkolaborasi dengan mesin penggiling kopi. Alunan musik mulai dibunyikan sekedar mematikan sepi, barangkali cemas. Tidak, aku tidak pernah lagi memesan teh macam apapun sejak meledaknya Early Grey di hadapanku waktu lalu. Aku kembali merangkul kopi, minuman yang hanya dinikmati perempuan realistis. Barista itu mondari-mandir mengantarkan pesanan ke beberapa pengunjung. Pandangannya tertambat di telapak tanganku yang melambai kearahnya.

“Espresso saja.” Kutegaskan padanya supaya ia tidak lagi mencampurkan waktu ke dalam pesananku, atau aku tidak akan sudi meminumnya. Ia mengangguk, tersenyum, lalu pergi.

Kulihat ada yang ganjil dengan pemandangan di balik jendela, sepotong bulan pucat menghilang.

“Kamu suka kopi?” Seorang lelaki asing membalikkan tubuhnya dan berbicara ke arahku.
“Suka.“
“Cinta dengan kopi?”
“Iya, cinta.”
“Jangan mengaku cinta dulu kalau setiap pagi hanya menyeduh kopi saset sebagai teman makan roti.”

Lelaki itu mengeluarkan bahak yang berderai dengan mata yang berair-air. Aku memang telah banyak menenggak ratusan kopi saset, setiap pagi dan menjelang malam. Tak cukup hanya itu, setiap akhir pekan aku menyinggahi cafe ini, memesan Presonilla di hari jumat dan tak pernah alpa menikmati Espresso di hari sabtu. Kupaksakan lidahku menyesapi rasa pahit keduanya. Kepahitan yang semakin nikmat dirasakan saat aku merasa sangat lelah, saat jiwaku sudah setipis kartu remi, dan saat tidak ada sesuatu pun yang tampaknya pantas untuk dilakukan di lima menit berikutnya dalam hidupku. Dan kedua rasa kopi itu sanggup mengubah keadaan. Lantas, apa namanya kalau bukan cinta?

“Kau tidak benar-benar menikmati kopi itu, Nona. Kau hanya merasakan kepahitan di dalamnya dan meneguknya bersama tabir masa lalu. Kau dan kopimu, sesuatu yang seolah-olah seperti cinta namun tidak juga memberi jaminan kebahagiaan.”

Ledekan lelaki itu membuat perutku mendadak mual, bergemuruh seperti gila. Cepat-cepat kutinggalkan lelaki gila dan Espresso gila yang tercampak di atas meja.

“Hey Nona, mau kemana?”
“Ke kemarin!”

Sial! Barista itu bikin ulah dengan menceburkan bulan pucat di dasar cangkirku.

TULISAN INI PERNAH DIIKUTSERTAKAN DALAM LOMBA MENULIS FLASH FICTION DAN MERAIH JUARA UTAMA VERSI MAZAYA PUBLISHING HOUSE.

Flash Fiction: Tentang Laki-Laki, Gema, dan Early Grey.

Sepertinya aku telah berhasil membuat laki-laki itu kecewa dengan keputusanku hingga ia melontarkan pertanyaan yang terasa mencekik leher.

“Jadi, aku harus berhenti menghubungimu?”

“Ya. Jangan membuatku semakin ketergantungan.”

“Aku juga ketergantungan, lalu mengapa aku harus menghindarimu jika kamu merasakan hal yang sama terhadapku?”

***

Di tempat ini telingaku harus bekerja lembur untuk tidak mendengarkan lagu yang menjeritkan syair patah hati. Barista cafe belum juga mengantarkan pesananku. Pemandangan di luar jendela menyuguhkan sepotong bulan pucat yang menyeret lamunanku pada laki-laki itu. Ya, sudah seminggu aku merindukan suara dan cerita yang dikisahkannya kepadaku. Dongeng tentang malaikat, iblis, kitab suci, hingga kisah perlawanan antara baik dan buruk para pendosa di muka bumi. Suaranya jauh lebih penting dari gema apapun disekelilingku sehingga aku ingin mencatat setiap alinea perkataannya dan memasukkannya ke dalam ingatanku. Sialnya, aku selalu gagal karena suaranya tidak pernah meninggalkan gema.

Ah, betapa sulitnya melupakan tarian perpisahan. Sebisa mungkin aku mempertahankan keputusanku dan menahan diri untuk tidak menghubunginya. Lagipula, tidak ada berita bagus yang bisa kuperdengarkan padanya. Di planet yang sudah jelek ini sulit sekali menemukan berita yang menggembirakan. Harus kuakui, laki-laki itu pandai menceritakan hal yang tidak menggembirakan terlebih tentang kehidupannya yang carut-marut di ibu kota dan kami akan menangis terbahak-bahak menertawakan kegetiran kisah itu semalam suntuk. Aku punya cara tersendiri bagaimana membuat laki-laki itu betah bercerita karena aku tidak ingin menghabiskan waktunya untuk mendengarkanku, gema seorang perempuan yang sedang berusaha menghadapi baik dan buruknya kehidupan, seperti para pendosa lainnya di persimpangan kota ini.

Perhatianku tertuju pada tangan barista yang meracik waktu, menuangkannya ke dalam pesananku. Akan kuhabiskan untuk menghubungi laki-laki itu sekarang. Aku harus menceritakan kepadanya betapa hidup ini terlalu membosankan jika untuk menghadapi baik dan buruk saja. Laki-laki itu harus cukup tangguh menghindari yang lebih buruk diantara yang buruk dan mengambil yang lebih baik diantara yang baik.

Belum tuntas aku menyesap waktu, Early Grey pesananku semburat. Tawaku seketika meledak karena suara laki-laki itu, kini telah meninggalkan gema:

“Jangan menghubungiku lagi.”

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba menulis flash fiction dan meraih juara favorit versi Mazaya Publishing House.