Ada Sepotong Bulan Pucat Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam.

Tidak banyak furnitur yang berubah di cafe ini, terutama jajaran meja kayu yang sejiwa dengan rasa kopi. Dan barista itu, ia berkolaborasi dengan mesin penggiling kopi. Alunan musik mulai dibunyikan sekedar mematikan sepi, barangkali cemas. Tidak, aku tidak pernah lagi memesan teh macam apapun sejak meledaknya Early Grey di hadapanku waktu lalu. Aku kembali merangkul kopi, minuman yang hanya dinikmati perempuan realistis. Barista itu mondari-mandir mengantarkan pesanan ke beberapa pengunjung. Pandangannya tertambat di telapak tanganku yang melambai kearahnya.

“Espresso saja.” Kutegaskan padanya supaya ia tidak lagi mencampurkan waktu ke dalam pesananku, atau aku tidak akan sudi meminumnya. Ia mengangguk, tersenyum, lalu pergi.

Kulihat ada yang ganjil dengan pemandangan di balik jendela, sepotong bulan pucat menghilang.

“Kamu suka kopi?” Seorang lelaki asing membalikkan tubuhnya dan berbicara ke arahku.
“Suka.“
“Cinta dengan kopi?”
“Iya, cinta.”
“Jangan mengaku cinta dulu kalau setiap pagi hanya menyeduh kopi saset sebagai teman makan roti.”

Lelaki itu mengeluarkan bahak yang berderai dengan mata yang berair-air. Aku memang telah banyak menenggak ratusan kopi saset, setiap pagi dan menjelang malam. Tak cukup hanya itu, setiap akhir pekan aku menyinggahi cafe ini, memesan Presonilla di hari jumat dan tak pernah alpa menikmati Espresso di hari sabtu. Kupaksakan lidahku menyesapi rasa pahit keduanya. Kepahitan yang semakin nikmat dirasakan saat aku merasa sangat lelah, saat jiwaku sudah setipis kartu remi, dan saat tidak ada sesuatu pun yang tampaknya pantas untuk dilakukan di lima menit berikutnya dalam hidupku. Dan kedua rasa kopi itu sanggup mengubah keadaan. Lantas, apa namanya kalau bukan cinta?

“Kau tidak benar-benar menikmati kopi itu, Nona. Kau hanya merasakan kepahitan di dalamnya dan meneguknya bersama tabir masa lalu. Kau dan kopimu, sesuatu yang seolah-olah seperti cinta namun tidak juga memberi jaminan kebahagiaan.”

Ledekan lelaki itu membuat perutku mendadak mual, bergemuruh seperti gila. Cepat-cepat kutinggalkan lelaki gila dan Espresso gila yang tercampak di atas meja.

“Hey Nona, mau kemana?”
“Ke kemarin!”

Sial! Barista itu bikin ulah dengan menceburkan bulan pucat di dasar cangkirku.

TULISAN INI PERNAH DIIKUTSERTAKAN DALAM LOMBA MENULIS FLASH FICTION DAN MERAIH JUARA UTAMA VERSI MAZAYA PUBLISHING HOUSE.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s