Kosa Kata yang Pas Untuk Menggambarkan Suara Dalam Cerita.

Mendeskripsikan Suara yang Imajinatif Agar Pembaca Semakin Terlena.

 “Tatkala aku bangun lagi, kulihat kota jadi begitu sepi. Entah apa yang terjadi, padahal hari ternyata masih siang. Pelan-pelan aku bangkit dan melangkah ke jalanan. Sunyi. Seperti tak sebuah suara pun terdengar. Tak sebuah kendaraan pun lewat melintas di jalanan itu. Lengang sekali seperti sebuah kota mati. Gedung-gedung bertingkat, jembatan-jembatan layang yang banyak melintasi kota dan pucuk-pucuk menara di kejauhan jadi bisu. Seperti tak sebuah makhluk pun bergerak. Angin juga seperti berhenti. Hanya beberapa kawanan burung merpati tampak berputar-putar di langit, membuat lingkaran-lingkaran di udara tanpa suara.”

(Kutipan cerpen Mohammad Fudoli Zaini berjudul Batu-Batu Setan.)

Apa kabar Geekers? Jika kita membaca sekilas kutipan cerpen Mohammad Fudoli Zaini di atas, penulis beberapa kali menggunakan kata-kata yang sangat pas dalam mendeskripsikan suara. Ia sengaja melukiskan sebuah kondisi kota yang tampak sunyi dengan permainan kata-kata yang sanggup mewakili keadaan di sekitar menggunakan indera pendengaran. Sebagai pembaca, kita pun menjadi terhanyut dengan suasana yang berhasil digambarkan melalui penekanan panca indera, yaitu telinga.

Seberapa pentingkah mendeskripsikan suara ke dalam tulisan? Nah sebagai penulis, tantangan terbesar kita adalah mencari kata-kata yang sanggup menggugah panca indera pembaca.  Jika sebelumnya kita sudah belajar tentang Kosa-Kata Untuk Menggambarkan Mimik Wajah Tokoh Dalam Cerita , kali ini kita akan mencoba menelusuri Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk menemukan kata-kata yang pas dalam menggambarkan kondisi suara yang terjadi di sekitar.

tips menulis 2
Johnson and Pearson (1987) pernah menuliskan bahwa a basic function of language is efficient, effective unless the words meanings used to transmit information hold similar values in the minds of both the author and the reader. Yang artinya: Proses pemahaman pembaca terhadap bacaan yang dibaca ditandai oleh kemampuan pembaca dalam mengidentifikasi kosa kata yang dipilih oleh penulis, pembaca mengenali hubungan antara kosa kata yang tertera di dalam teks,  dan  pembaca menghubungkan kosa kata yang tertera dalam teks dalam suatu kombinasi kosa kata yang unik yang digunakan oleh penulis.

Dari sini kita semakin memahami bahwa fungsi kosa kata dalam sebuah karangan sangatlah besar dan dapat mempengaruhi taste pembaca. Bahkan menurut para ahli bahasa, faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan penulis adalah pemilihan kosa kata yang unik. Johnson dan Pearson (1987)  selanjutnya mengatakan the words become a summary symbol for all those concepts, a set of abbreviations that allow us to communicate a lot of meaning in a brief amount of space and time. Kata-kata menjadi simbol ringkasan untuk keseluruhan konsep yang diusung oleh penulis, yang merupakan satu set singkatan yang memungkinkan penulis untuk berkomunikasi dengan banyak makna dalam jumlah singkat baik ruang dan waktu.

Yuk, dicatat kata-kata penting berikut untuk mendeskripsikan suara serta memperkuat latar belakang cerita yang kita buat agar pembaca semakin penasaran!

acuh tak acuh licin ringan
bas lincah ringkikan
begitu cepat lunak riuh
bening malas rusak
berangin manis samar
berbicara dengan nada mengeluh masam sarkastik
berdehem melengking sebenarnya
berderit membosankan sedih
berduri memuakkan selembut sutra
bergembira sekali memualkan semilir
bergemertak memuji-muji sengau
berminyak mendayu-dayu sengit
bernada ceria menebal sepi bak kuburan
bernada naik turun menenangkan serak
bernada rendah mengejek seruak
bernada tinggi menggatalkan telinga sesak seperti penderita asma
besar sekali menggeram simpatik
biadab menggoda singkat
bunyi berdesis menjerit kuat sinis
cara bicara yang cukup lamban menjijikan sok
datar mentah sopan
dering menyanyikan lagu sopran
desah menyenandungkan suara bernada tinggi
desis menyindir suara yang dipoles menawan
diam tanpa suara merdu suara yang seolah memantulkan cahaya
dingin meredam suara yang terendah
garing muram sumbang
gelisah murung sungguh-sungguh
gemetaran musikal sunyi
gemuruh naif suram
genit netral tajam
gonggongan nyaring tak bernyawa
goyah nyaris tak terdengar tak menentu
halus otoriter tanpa emosi
hangat padat tegang
kaku pahit tenang
kasar palsu terang
kecil parah terdengar bodoh
kekanak-kanakan parau terdengar cengeng
keperakan patuh terdengar ironis
keraguan pedas terdengar membosankan
keras penuh kasih termenung
kering penuh kebencian terpelajar
keroncongan penyanyi bariton terpotong
kicau puas tersedak
kurang ajar putus asa tersinggung
lemah ragu-ragu tipis
lemah lembut lepas ramah
lembut rapuh tulus
licik rewel tumpul

List tersebut terkadang membantu saya memunculkan ide dalam membuat beberapa kalimat dialog. Semoga list tersebut juga dapat menjadi mood booster kamu dalam melanjutkan cerita atau project menulis yang belum selesai. Jika ada yang mengetahui kosa-kata lainnya, jangan sungkan untuk menambahkan di kolom komentar, ya!

Ups, jangan lewatkan juga ikutan kompetisi-kompetisi menulis bergengsi yang berhadiah jutaan rupiah untuk menguji seberapa jauh kemampuan menulismu!

“Almost all good writing begins with terrible first efforts. you need to start somewhere – Anne Lamott.”

Lomba Menulis Puisi, Cerpen, dan Novel Hadiah Jutaan Rupiah – Media Penulis DL 25 Agustus 2016

Lomba menulis puisi, cerpen, dan novel yang diadakan Media Penulis mengangkat tema “Negeri Sastra Pujangga”. Lomba ini dapat diikuti oleh kalangan umum dan tidak terbatas usia.

Lomba Menulis Puisi, Cerpen, dan Novel

Media Penulis
brosur

KETENTUAN LOMBA
1.    Tema Umum: “Negeri Sastra Pujangga” berlaku untuk Puisi, Cerpen, dan Novel. Hasil karya harus dapat menyentuh hati dengan akal dan dapat membuka pemikiran baru yang cemerlang dari pembaca karya.
2.    Naskah dikirim melalui E-Mail : Mediapenulis@gmail.com
3.    Wajib Membagikan Info Lomba dengan Tag 10 Teman, Gabung Grup Fb Media Penulis dan Like Fanspage Media Penulis
4.    Like Fanspage Media Penulis dan bergabung di Grup Media Penulis

SYARAT LOMBA

PESERTA:
Terbuka untuk umum yang memiliki minat dalam penulisan cerpen. Tidak dibatasi umur, pendidikan, status, daerah dll. Siapa saja boleh mengikuti lomba ini dengan memenuhi ketentuan dan syarat lomba (baca informasi lebih lanjut).

1. PUISI
TEMA : RAHASIA SIAPA?
DL : 02 Juni 2016 – 17 Agustus 2016
a.    Panjang puisi 2 halaman, spasi 1,5. Times New Roman font 12.
b.     Margin (garis): atas, bawah, samping kiri dan kanan (semua sisi 3 cm)
c.     puisi tidak mengandung asusila, ponografi dan kekerasan berlebihan, serta tidak menghina/melecehkan keyakinan tertentu.
d.    Puisi belum pernah diikutkan dalam lomba menulis atau dipublikasikan di media online/cetak.
e.    Biodata penulis ditulis di bagian akhir naskah cerpen: halaman biodata tidak dihitung sebagai halaman naskah puisi dan disertai titimangsa.
f.    Setiap peserta hanya bisa mengirimkan maks 3 puisi
g.    Peserta wajib Like fanspage Media penulis dan bergabung dengan grup media penulis
h.    Inti dari puisi jelas tentang Ramadhan, Liburan, Idul fitri, dan Hari Kemerdekaan.

2.  Cerpen
TEMA : CERITAKAN KISAHMU
DL : 02 Juni – 25 Agustus 2016
a.    Panjang cerpen maks 8 halaman, spasi 1,5. Times New Roman font 12.
b.    Margin (garis): atas, bawah, samping kiri dan kanan (semua sisi 3 cm)
c.    Cerpen tidak mengandung asusila, ponografi dan kekerasan berlebihan, serta tidak menghina/melecehkan keyakinan tertentu.
d.    Cerpen belum pernah diikutkan dalam lomba menulis atau dipublikasikan di media online/cetak.
e.    Biodata penulis ditulis di bagian akhir naskah puisi: halaman biodata tidak dihitung sebagai halaman naskah puisi dan disertai titimangsa.
f.    Setiap peserta hanya bisa mengirimkan maks 2 cerpen.
g.    Peserta wajib Like Fanspage Media Penulis dan bergabung dengan Grup Media Penulis
h.    Inti dari kisah cerpen jelas tentang Ramadhan, Liburan, Idul fitri, dan Hari Kemerdekaan.

3.NOVEL
TEMA : MENYENTUH HATI DENGAN AKAL
DL : 02 juni – 25 September 2016
a.    Panjang Novel 75-200 halaman, spasi ganda (spasi 2), Times New Roman font 12.
b.     Margin (garis): atas, bawah, samping kiri dan kanan (semua sisi 3 cm)

c.     Novel tidak mengandung asusila, ponografi dan kekerasan berlebihan, serta tidak menghina/melecehkan keyakinan tertentu.
d.    Novel belum pernah dipublikasikan di media online/cetak .
e.    Biodata penulis ditulis di bagian awal naskah novel: halaman biodata tidak dihitung sebagai halaman naskah puisi .
f.    Naskah disertai dengan sinopsi.
g.    Setiap peserta hanya bisa mengirimkan 1 Naskah.
h.    Peserta wajib Like Fanspage Media Penulis dan bergabung dengan Grup Media Penulis
i.    Kisah dalam novel harus bisa menyentuh pembaca.
BIAYA LOMBA:
1.    PUISI    : Rp. 20.000/Puisi (Maks 3 Puisi)
2.    Cerpen    : Rp. 25.000/Cerpen (Maks 2 Cerpen)
3.    Novel    : Rp. 35.000/Novel (Maks 1 Novel)
4.    Artikel    : Rp.10.000/Artikel (Maks 4 Artikel)

HADIAH LOMBA:
1.    PUISI
1.    Juara 1    : Rp. 2.350.000 + E-Sertifikat + T-Shirt Visshop
2.    Juara 2    : Rp. 1.600.000 + E-Sertifikat + T-Shirt Visshop
3.    Juara 3    : Rp. 1.000.000 + E-Sertifikat + T-Shirt Visshop
4.    10 Besar    : Rp. 100.000/Penulis + E-Sertificate
5.    100 Karya pilihan akan mendapatkan E-Sertifikat + 10% Discount harga Buku
“Antologi Puisi – Rahasia Siapa?”

2.    CERPEN
1.    Juara 1    : Rp. 2.700.000 + E-Sertifikat + T-Shirt Visshop
2.    Juara 2    : Rp. 1.850.000 + E-Sertifikat + T-Shirt Visshop
3.    Juara 3    : Rp. 1.300.000 + E-Sertifikat + T-Shirt Visshop
4.    10 Besar    : Rp. 100.000 + E-Sertifikat
5.    20 Besar    : Rp. 50.000 + E-Sertifikat

3.    NOVEL
1.    Juara 1    : Rp. 6.000.000 + E-Sertifikat + T-Shirt Visshop + Terbit (Full)
2.    Juara 2    : Rp. 3.600.000 + E-Sertifikat + T-Shirt Visshop + Terbit (Full)
3.    Juara 3    : Rp. 2.500.000 + E-Sertifikat + T-Shirt Visshop + Terbit (Full)
4.    7 Besar    : Rp. 1.000.000 + E-Sertifikat
5.    20 Besar    : E-Sertifikat + Discount Harga 30% Novel Pemenang 1, 2 ,3 yang terbit
6.    50 Besar    : E-Sertifikat + Discount Harga 15% Novel pemenang yang terbit

Bagi yang berminat mengikuti lomba tersebut, Silahkan mengunduh formulir pendaftaran disini. Untuk tata cara pembayaran dan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi kontak penyelenggara berikut:

Fanspage Media Penulis (https://www.facebook.com/mediapenulis
Grup Media Penulis (https://www.facebook.com/groups/1077308225676006 

When all else fails, write what your heart tells you…

Lomba Menulis Cerpen dan Puisi – Mawar Publisher DL 30 Agustus 2016

Informasi lomba menulis cerpen serta puisi untuk umum dan gratis! Suka iseng nulis puisi? Punya koleksi cerpen yang menumpuk dan belum terpublish? Ayo, beranikan diri untuk mengikuti kompetisi. Mawar Publisher mengadakan lomba menulis cerpen dengan tema “Masih Adakah Harapan Di Ujung Senja?”. 

Lomba Menulis Cerpen dan Puisi

tema “Masih Adakah Harapan Di Ujung Senja?
Mawar Publisher
Mawar

Syarat dan Ketentuan Lomba:

1. Ketentuan Umum Peserta
a. Warga Negara Indonesia (WNI)
b. Menyukai halaman Mawar Publisher
c. Berteman dengan Fb: Handhika Rahman , dan Mawar Publisher untuk mempermudah update peserta.
d. Tema: Masih Adakah Harapan Di Ujung Senja
e. Genre: Bebas
f. Naskah tidak mengandung unsur SARA dan Pornografi, belum pernah dipublikasikan serta ditulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD.
g. Memiliki akun Fb dan memposting info lomba ini dengan menandai (men-tag) minimal 20 orang teman termasuk akun Handhika Rahman dan Mawar Publisher.

2. Ketentuan Naskah Cerpen:

a. Naskah ditulis pada microsoft office word, dengan format teks TNR (Times New Roman) 12 pt, ukuran kertas A4, margin normal, space 1,5
b. Panjang naskah maksimal 4 halaman
c. Di akhir naskah, tulis biodata narasimu max 100 kata, meliputi nama, nama fb, alamat e-mail, serta foto peserta (foto yang paling imut ya… He)
d. Kirim naskah sahabat dalam bentuk lampiran (attachment) ke e-mail:
sahabatmawar81@gmail.com
e. Dengan subjek: Senja_Cerpen_Judul Naskah_Nama Penulis
Contoh: Senja_Cerpen_Rindu Senyum Bunda_Hatake

3. Ketentuan Naskah Puisi:

a. Naskah ditulis pada microsoft offuce word, dengan format teks TNR (Times New Roman) 12 pt, ukuran kertas A4, margin normal, space 1,5
b. Panjang naskah maksimal 1 halaman
c. Di akhir naskah, tulis biodata narasimu max 100 kata, meliputi nama, nama fb, alamat e-mail, serta foto peserta (foto yang paling imut ya… He)
d. Kirim naskah sahabat dalam bentuk lampiran (attachment) ke e-mail:
sahabatmawar81@gmail.com
e. Dengan subjek: Senja_Puisi_Judul Naskah_Nama Penulis
Contoh: Senja_Puisi_Do’amu Menguatkanku_Hatake

Keterangan Tambahan:

a. Format penulisan naskah:
• Judul
• Nama Penulis
• Isi
• Titimangsa
• Biodata narasi
b. Peserta boleh mengikuti kedua kategori lomba, baik cerpen maupun puisi
c. Peserta hanya boleh mengirim 1 naskah terbaik untuk setiap kategori lomba
d. Pengiriman naskah mulai tanggal 30 Juli 2016 s/d 30 Agustus 2016 pukul 23.59 WIB
e. Update peserta akan dilakukan 1 kali dalam satu minggu
f. Update final akan dilakukan 1 September 2016
g. Pengumuman Juara dan Kontributor akan dilakukan Insya Allah tiga (3) minggu setelah DL. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat

Hadiah:

• Juara 1 :Voucher Penerbitan 100K, 1 bukti buku terbit, & sertifikat cetak,
• Juara 2 : Voucher Penerbitan 50K, 1 bukti buku terbit, & sertifikat cetak,
• Kontributor : Semua kontributor terpilih akan mendapatkan E-Sertifikat, dan diskon 10% untuk setiap pembelian bukunya.

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi langsung kontak penyelenggara:

PJ Event : Handhika Rahman (https://www.facebook.com/handhika.arrahman)

Mawar Publisher (https://www.facebook.com/mawarpublisher.ribka)

CEK JUGA : LOMBA MENULIS PUISI, CERPEN, DAN NOVEL HADIAH JUTAAN RUPIAH – MEDIA PENULIS DL 25 AGUSTUS 2016

Write until you surprise yourself…

Perempuan yang Terasing di Dalam Tubuhnya Sendiri.

Sore itu sedang tidak jelas pukul berapa. Di tempat yang tidak begitu dianggap keberadaannya pula aku menyinggahi kursi marmer yang ditata mengitari meja barista. Kedai itu telah dipenuhi puluhan manusia yang mengeluarkan suara riuh bak sekumpulan lebah, mengunyah makanan sekaligus bercakap dengan teman bicara masing-masing. Sembari menyendok Affogato, aku bercakap dengan teman yang baru saja kubeli. Kami asik berbicara dalam bahasa kami sendiri, enigma yang tidak akan dimengerti oleh puluhan manusia yang riuh seperti sekumpulan lebah itu.

Seorang perempuan datang menghampiri mejaku, satu-satunya meja yang menyisakan satu kursi marmer kosong. Tentu saja aku mempersilahkannya duduk di kursi marmer yang kosong itu karena temanku yang baru saja kubeli tadi tidak akan keberatan jika kududukkan di atas meja. Perempuan itu tampak kerepotan menjinjing tas, mengempit kantong plastik, dan di tangan yang satunya lagi menggenggam gelas transparan berisi separo Espresso.

“Suka dengan buku itu? Kebetulan aku juga baru saja beli. Bagus ya ceritanya?”

Kata-kata perempuan itu keluar dari bibir merah mudanya dan masuk ke telingaku yang masih terpasang headset. Aku menatap perempuan yang berdiri anggun itu sedang berusaha merapikan posisi duduknya. Kupikir, baguslah ada perempuan yang mau berbicara denganku, beruntung pula aku karena ia tertarik dengan teman bacaanku. Kemudian aku melepas headset yang sengaja kupasang tanpa bunyi-bunyian, hanya sekedar menjauhkanku dari perasaan terasing. Karena kehadiran perempuan itu tidak menggangguku, maka aku berhenti berpura-pura mendengarkan lagu.

“Oh, ini? Antalogi cerpen. Saya suka dengan penulis yang puitis.”

“Oh ya? Boleh tau ngga’ kata-kata mana yang kamu sukai?”

“Yakin mau tau? Ini nih: Baginya, kau hanya pembunuh waktu.

Perempuan itu mengeluarkan tawa yang menyelipkan makna seraya meraih gelas transparan dan menyeruputnya. Lipstik merah mudanya meninggalkan bekas di pinggiran gelas transparan dengan Espresso yang tersisa seperempat. Tampak ia sedang sendirian saja. Barangkali sedang tidak ingin ditemani, tidak suka ditemani, atau tidak menemukan teman yang mau menemaninya? Ia membuka kantong plastik yang dari tadi masih dikempitnya, mengeluarkan dua macam buku, lantas menyobek plastik pembungkus buku itu dengan hati-hati. Label harga tidak serta merta dibuangnya, ia justru menempelkannya lagi di bagian belakang buku-buku baru itu.

“Sama siapa kesini?” Pertanyaan yang kulemparkan sebagai upaya mencairkan suasana.

“Sendiri. Memangnya siapa yang mau diajak ke tempat seperti ini?”

Benar juga, selain aku dan perempuan itu, hampir semua manusia di kota metropolitan seperti ini lebih suka menyinggahi mall dan gedung bioskop. Akan lebih baik jika kami hanya membawa teman bacaan masing-masing.

Selepas pertemuan kami di tempat yang tidak begitu dianggap keberadaannya itu, hubungan kami pun berlanjut dengan bertukar nomor telepon. Terkadang aku meneleponnya, seringkali ia yang meneleponku. Sejauh ini, ia tidak pernah sedikitpun bercerita tentang kehidupannya, keluarganya, dan orang-orang yang dicintainya. Siapakah dia? Aku tidak pernah benar-benar mengenalinya. Terkadang aku berpikir kalau ia hanyalah perempuan yang sekedar ingin membunuh sepi bersamaku. Dan suatu saat, ia akan lenyap meninggalkanku bersama senyap.

Di dunia ini, belum pernah ada telinga-telinga yang dengan sungguh-sungguh bersedia mendengarkan ocehanku, atau pembicaraan yang tidak jelas juntrungannya. Tetapi perempuan itu, mendengarkan diamku saja dia betah, satu sampai dua jam, bahkan lebih. Tampaknya ia cukup mengerti bahwa di dalam diam justru terdapat lebih banyak kata-kata. Maka dari itu tak pernah sedikitpun ia menyela atau membicarakan hal-hal lain.

“Lagi di mana?”

“Ngopi.”

Sebuah pesan singkat datang dari perempuan itu, menanyakan keberadaanku yang saat itu memang sedang ngopi. Tak berselang lama, pintu kedai terbuka, perempuan itu datang dan langsung mengambil duduk dihadapanku. Banyakkah waktu yang dimilikinya hingga ia rela menyematkan beberapa jam hanya untuk duduk menyeruput kopi bersamaku?

Begitulah. Tanpa ba-bi-bu, sahabat baruku itu tiba-tiba datang di kedai ini. Kami memesan menu yang sama seperti saat pertemuan kali pertama, bercakap tentang kutipan buku, tentang kata-kata yang sedikit puitis dan romantis, serta lagu-lagu baru yang pas dengan suasana hati kami. Selepas itu, kami lebih banyak diam dan menyesap kopi masing-masing. Sekalipun timbul percakapan lagi, hanya aku saja yang mengoceh, sementara ia mendengarkanku dengan antusias.

Kami memang selalu membawa teman bacaan di dalam tas masing-masing, sekedar kami baca sebagai teman untuk mengusir sepi dan keterasingan. Jika ia sedang memesan Espresso, maka aku akan memesan Affogato dan sebaliknya. Jika pemilik kedai memutarkan lagu-lagu yang kami sukai, kami pun bergantian menyanyikannya.

“I’m gonna love you, like I’m gonna lose you.”

“I’m gonna hold you, like I’m saying goodbye.”

Di kedai kopi ini, pertemuan kami menjadi semakin rutin dan terjadwal. Seminggu bisa tiga hingga empat kali kami berjumpa. Terkadang cerita kami menjadi sepanjang jalan tol, seperti malam yang terasa tiada habisnya. Tidak jarang pula kami lebih banyak membicarakan kesunyian. Kami selalu menjadi pelanggan terakhir hingga pemilik kedai mempersilakan kami dengan sangat sopan untuk datang kembali esok hari. Perempuan itu berjanji akan selalu datang di kedai ini menunggu kehadiranku.

Perempuan itu menyukai Espresso. Baginya, pekatnya Espresso selalu membuatnya teringat akan malam-malam yang gelap. Entah apa yang disukainya dari malam yang gelap itu. Aku tidak begitu menyukai Espresso dan gelap selalu terasa kelam. Aku pun teringat akan sesuatu saat menyesapi Affogato ku. Kepahitan yang terasa sedikit lebih manis bukan hanya karena campuran es krim vanillanya, tetapi juga karena kehadiran perempuan itu dihadapanku. Aku merasa menjadi orang terasing yang tidak lagi sendirian. Rasa-rasanya sulit membedakan antara kecanduan kopi ataukah kecanduan perempuan itu.

Lama kelamaan aku keberatan dengan pertemuan dan komunikasi kami yang semakin rutin di kedai itu. Aku belum siap menghadapi kenyataan jika suatu saat nanti, tidak ada lagi waktu yang disisakan perempuan itu barang semenit untukku. Pada mulanya ia keberatan dengan rencanaku untuk menyudahi pertemuan kami. Namun setelah meyakinkannya, permohonanku yang terdengar sinting baginya itu dikabulkan.

“Baiklah, mulai saat ini kita akan saling melupakan. Oh ya, satu lagi. Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun dan menghabiskan waktu berapa pun lamanya selama aku menyukainya.“

Lantas, antara menghabiskan sajian kopi dan menghabiskan malam bersamaku di kedai itu, manakah yang lebih disukainya? Aku tidak pernah memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu kepadanya. Karena selama ini tidak ada seorang pun yang suka berlama-lama menghabiskan malamnya bersama dengan perempuan sepertiku, perempuan yang terlalu banyak menyimpan kesedihan yang melekat di dalam kepalanya. Jadi, pastilah ia lebih menyukai Espresso, hanya itu. Dan pantaslah jika aku berpikir bahwa baginya, aku hanya sekedar pembunuh waktu.

Aku harus menghilang dari perempuan itu, perempuan yang hampir tidak sanggup berkata “tidak” untuk segala macam permintaanku. Walaupun sebenarnya aku tidak pernah meminta suatu apapun selain waktu dan telinganya. Selain menjadi perempuan yang terasing, hal yang terasa begitu pahit di dunia ini adalah menjadi si pengemis waktu.

Untuk malam yang kesekian, kursi marmer di hadapanku tetap kosong. Pemilik kedai datang membawa menu dan dengan keramahannya menyapaku.

“Dari Espresso dan Affogato yang saya sajikan, manakah yang paling Anda sukai? Saya penasaran karena sejak pertama kali datang di kedai saya ini, Anda selalu memesan keduanya untuk diminum sendiri.”

Terkadang, aku menjadi bodoh dengan terlalu cinta kepada cerita-cerita bagus sehingga memaksakannya untuk menjadi kenyataan. Ya, aku selalu merasa terasing di kota ini, bahkan di dalam tubuhku sendiri. Perempuan yang menyapaku pada suatu sore yang tidak jelas pukul berapa, di tempat yang tidak begitu dianggap keberadaannya, dan yang suka memesan Espresso itu, tidak pernah ada.

TULISAN INI PERNAH DIIKUTSERTAKAN DALAM LOMBA MENULIS CERPEN BERTEMAKAN “RASA DALAM SECANGKIR KOPI” DAN MENJADI KONTRIBUTOR TERPILIH VERSI MAWAR PUBLISHER.

Ada Sepotong Bulan Pucat Tenggelam di Dasar Cangkir Kopi Hitam.

Tidak banyak furnitur yang berubah di cafe ini, terutama jajaran meja kayu yang sejiwa dengan rasa kopi. Dan barista itu, ia berkolaborasi dengan mesin penggiling kopi. Alunan musik mulai dibunyikan sekedar mematikan sepi, barangkali cemas. Tidak, aku tidak pernah lagi memesan teh macam apapun sejak meledaknya Early Grey di hadapanku waktu lalu. Aku kembali merangkul kopi, minuman yang hanya dinikmati perempuan realistis. Barista itu mondari-mandir mengantarkan pesanan ke beberapa pengunjung. Pandangannya tertambat di telapak tanganku yang melambai kearahnya.

“Espresso saja.” Kutegaskan padanya supaya ia tidak lagi mencampurkan waktu ke dalam pesananku, atau aku tidak akan sudi meminumnya. Ia mengangguk, tersenyum, lalu pergi.

Kulihat ada yang ganjil dengan pemandangan di balik jendela, sepotong bulan pucat menghilang.

“Kamu suka kopi?” Seorang lelaki asing membalikkan tubuhnya dan berbicara ke arahku.
“Suka.“
“Cinta dengan kopi?”
“Iya, cinta.”
“Jangan mengaku cinta dulu kalau setiap pagi hanya menyeduh kopi saset sebagai teman makan roti.”

Lelaki itu mengeluarkan bahak yang berderai dengan mata yang berair-air. Aku memang telah banyak menenggak ratusan kopi saset, setiap pagi dan menjelang malam. Tak cukup hanya itu, setiap akhir pekan aku menyinggahi cafe ini, memesan Presonilla di hari jumat dan tak pernah alpa menikmati Espresso di hari sabtu. Kupaksakan lidahku menyesapi rasa pahit keduanya. Kepahitan yang semakin nikmat dirasakan saat aku merasa sangat lelah, saat jiwaku sudah setipis kartu remi, dan saat tidak ada sesuatu pun yang tampaknya pantas untuk dilakukan di lima menit berikutnya dalam hidupku. Dan kedua rasa kopi itu sanggup mengubah keadaan. Lantas, apa namanya kalau bukan cinta?

“Kau tidak benar-benar menikmati kopi itu, Nona. Kau hanya merasakan kepahitan di dalamnya dan meneguknya bersama tabir masa lalu. Kau dan kopimu, sesuatu yang seolah-olah seperti cinta namun tidak juga memberi jaminan kebahagiaan.”

Ledekan lelaki itu membuat perutku mendadak mual, bergemuruh seperti gila. Cepat-cepat kutinggalkan lelaki gila dan Espresso gila yang tercampak di atas meja.

“Hey Nona, mau kemana?”
“Ke kemarin!”

Sial! Barista itu bikin ulah dengan menceburkan bulan pucat di dasar cangkirku.

TULISAN INI PERNAH DIIKUTSERTAKAN DALAM LOMBA MENULIS FLASH FICTION DAN MERAIH JUARA UTAMA VERSI MAZAYA PUBLISHING HOUSE.