Flash Fiction: Tentang Laki-Laki, Gema, dan Early Grey.

Sepertinya aku telah berhasil membuat laki-laki itu kecewa dengan keputusanku hingga ia melontarkan pertanyaan yang terasa mencekik leher.

“Jadi, aku harus berhenti menghubungimu?”

“Ya. Jangan membuatku semakin ketergantungan.”

“Aku juga ketergantungan, lalu mengapa aku harus menghindarimu jika kamu merasakan hal yang sama terhadapku?”

***

Di tempat ini telingaku harus bekerja lembur untuk tidak mendengarkan lagu yang menjeritkan syair patah hati. Barista cafe belum juga mengantarkan pesananku. Pemandangan di luar jendela menyuguhkan sepotong bulan pucat yang menyeret lamunanku pada laki-laki itu. Ya, sudah seminggu aku merindukan suara dan cerita yang dikisahkannya kepadaku. Dongeng tentang malaikat, iblis, kitab suci, hingga kisah perlawanan antara baik dan buruk para pendosa di muka bumi. Suaranya jauh lebih penting dari gema apapun disekelilingku sehingga aku ingin mencatat setiap alinea perkataannya dan memasukkannya ke dalam ingatanku. Sialnya, aku selalu gagal karena suaranya tidak pernah meninggalkan gema.

Ah, betapa sulitnya melupakan tarian perpisahan. Sebisa mungkin aku mempertahankan keputusanku dan menahan diri untuk tidak menghubunginya. Lagipula, tidak ada berita bagus yang bisa kuperdengarkan padanya. Di planet yang sudah jelek ini sulit sekali menemukan berita yang menggembirakan. Harus kuakui, laki-laki itu pandai menceritakan hal yang tidak menggembirakan terlebih tentang kehidupannya yang carut-marut di ibu kota dan kami akan menangis terbahak-bahak menertawakan kegetiran kisah itu semalam suntuk. Aku punya cara tersendiri bagaimana membuat laki-laki itu betah bercerita karena aku tidak ingin menghabiskan waktunya untuk mendengarkanku, gema seorang perempuan yang sedang berusaha menghadapi baik dan buruknya kehidupan, seperti para pendosa lainnya di persimpangan kota ini.

Perhatianku tertuju pada tangan barista yang meracik waktu, menuangkannya ke dalam pesananku. Akan kuhabiskan untuk menghubungi laki-laki itu sekarang. Aku harus menceritakan kepadanya betapa hidup ini terlalu membosankan jika untuk menghadapi baik dan buruk saja. Laki-laki itu harus cukup tangguh menghindari yang lebih buruk diantara yang buruk dan mengambil yang lebih baik diantara yang baik.

Belum tuntas aku menyesap waktu, Early Grey pesananku semburat. Tawaku seketika meledak karena suara laki-laki itu, kini telah meninggalkan gema:

“Jangan menghubungiku lagi.”

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba menulis flash fiction dan meraih juara favorit versi Mazaya Publishing House.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s